Welcome to punyahari.blogspot.com...selamat datang di punyahari.blogspot.com
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, Maret 25, 2020

LANDASAN HUKUM PENDIDIKAN


 A. Pengertian
Secara khusus, pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan, yang berlangsung di dalam dan luar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang (Mudyaharjo, 2008: 3, 11). Menurut Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1989 tentang Pendidikan Nasional pasal 1 : “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.
Pendidikan sebagai usaha sadar yang selalu bertolak dari sejumlah landasan serta pengindahan sejumlah asas-asas tertentu. Landasan dan asas tersebut sangat penting, karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap perkembangan manusia dan masyarakat bangsa tertentu. Secara umum, pendidikan merupakan segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup.

Senin, Desember 31, 2018

Contoh Metode Penlitian Kualitatif pada Bank

Metode Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data
1.5.1 Populasi
Populasi penelitian ini yaitu adalah nasabah walk in di BANK BCA KCP Cikarang.
1.5.2 Sampel
Dalam penelitian ini adalah menggunakan purposive sample Menurut Suharsimi Arikunto, (2010:183) purposive sample adalah sampel bertujuan dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas strata, random atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu.

Selasa, Oktober 30, 2018

KI dan KD PKn kelas 4 Kurtilas (Revisi)

KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR
PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN SD/MI
KELAS 1V

Kompetensi Sikap Spiritual, Kompetensi Sikap Sosial, Kompetensi Pengetahuan, dan Kompetensi Keterampilan dirumuskan sebagai berikut, yaitu siswa mampu:

Kamis, November 16, 2017

HOW TO MAKE LESSON PLAN





RUMUS INDIKATOR

SMART
Specific (menggunakan kata kerja operasional)
Measurable (sasaran harus terukur)
Achievable (terjangkau)
Reliable (terbukti dan teruji)
Timebased (tepat diajarkan pada tempatnya)


TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Pahami rumus ABCD
Audience, artinya sasaran sebagai pembelajar yang perlu dijelaskan secara spesifik agar jelas untuk siapa tujuan tersebut diberikan.  Misalnya: Siswa kelas V MI, Kelas IX MTs, Kelas XII MA, dan lainnya.

Minggu, Maret 12, 2017

Kompetensi Guru



BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Peranan guru sangat menentukan dalam usaha peningkatan mutu pendidikan formal. Untuk itu guru sebagai agen pembelajaran dituntut untuk mampu menyelenggarakan proses pembelajaran dengan sebaik-baiknya, dalam kerangka pembangunan pendidikan. Guru mempunyai fungsi dan peran yang sangat strategis dalam pembangunan bidang pendidikan, dan oleh karena itu perlu dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat. Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 4 menegaskan bahwa guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Untuk dapat melaksanakan fungsinya dengan baik, guru wajib untuk memiliki syarat tertentu, salah satu di antaranya adalah kompetensi.

Kamis, Februari 23, 2017

Pembelajaran Tematik



BAB I
 PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
            Pelaksanaan model tematik bagi siswa SD/MI di kelas I – III  salah satunya berdasarkan pada kondisi psikologis siswa kelas I – III yang memandang segala sesuatu sebagai satu kesatuan yang utuh (holistik). Sangat sulit bagi mereka untuk memahami dan membedakan berbagai konsep. Air, sebagai contoh, dipandang sebagai zat yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bila guru menjelaskan air secara hakekat dan terpisah dengan konsep-konsep lain (seperti konsep air dalam ilmu kimia), siswa akan mengalami kesulitan memahaminya. Dalam pembelajaran lebih baik bila konsep air dikaitkan dengan konsep bersuci dalam mata pelajaran pendidikan agama Islam, konsep kebersihan dalam mata pelajaran IPA, konsep transportasi air dalam pelajaran IPS, bahkan dalam pelajaran kesenian pun guru dapat menyampaikan makna dan kegunaan air dalam suatu nyanyian/ lagu. Gerakan ombak air laut pun dapat diekspresikan siswa melalui gerakan ritmik mengikuti gerak tari untuk memperkuat otot lengan dan hasta dalam pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan.
            Fenomena banyak siswa yang tinggal kelas pada kelas I – III juga dijadikan dasar bagi pengambil kebijakan untuk melaksanakan pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik sangat membantu siswa yang tidak berasal dari pendidikan pra sekolah untuk mulai belajar di bangku formal. Pelajaran yang disajikan tanpa adanya pemilahan mata pelajaran menyebabkan siswa belajar tanpa sadar berbagai hal dalam satu kali pembelajaran. Hal ini sangat menguntungkan bagi siswa, yaitu belajar tanpa beban dan learning by playing. Bermain adalah kegiatan yang paling disukai oleh anak-anak.

Kamis, November 17, 2016

Pendapat Para Pakar tentang Pendidikan



1. Prof. H. Mahmud Yunus: Yang dimaksud pendidikan ialah suatu usaha yang dengan sengaja dipilih untuk mempengaruhi dan membantu anak yang bertujuan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, jasmani dan akhlak sehingga secara perlahan bisa mengantarkan anak kepada tujuan dan cita-citanya yang paling tinggi. Agar memperoleh kehidupan yang bahagia dan apa yang dilakukanya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, masyarakat, bangsa, negara dan agamanya.

Sabtu, November 23, 2013

Model Pembelajaran IPS



A. Perkembangan Kurikulum  Pendidikan Ips Di  Indonesia
IPS merupakan suatu program pendidikan dan bukan sub-disiplin ilmu tersendiri, sehingga tidak akan ditemukan baik dalam nomenklatur filsafat ilmu, disiplin ilmu-ilmu sosial (social science), maupun ilmu pendidikan (Sumantri. 2001:89). Social Scence Education Council (SSEC) dan National Council for Social Studies (NCSS), menyebut IPS sebagai “Social Science Education” dan “Social Studies”. Dengan kata lain, IPS mengikuti cara pandang yang bersifat terpadu dari sejumlah mata pelajaran seperti: geografi, ekonomi, ilmu politik, ilmu hukum, sejarah, antropologi, psikologi, sosiologi, dan sebagainya.
Dalam bidang pengetahuan sosial, ada banyak istilah. Istilah tersebut meliputi : Ilmu Sosial (Social Sciences), Studi Sosial (Social Studies) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Jumat, Juli 12, 2013

Anak Berkebutuhan Khusus


PENGERTIAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan (phisik, mental-intelektual, social, emosional) dalam proses pertumbuhan/ perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
Dengan demikian, meskipun seorang anak mengalami kelainan/ penyimpangan tertentu, tetapi kelainan/penyimpangan tersebut tidak signifikan sehingga mereka tidak memerlukan pelayanan pendidikan khusus, anak tersebut bukan termasuk anak dengan kebutuhan khusus.
Ada bermacam-macam jenis anak dengan kebutuhan khusus, tetapi khusus untuk keperluan pendidikan inklusi, anak dengan kebutuhan khusus akan dikelompokkan menjadi 9 jenis. Berdasarkan berbagai studi, ke 9 jenis ini paling sering dijumpai di sekolah-sekolah reguler. Jika di luar 9 jenis tersebut masih dijumpai di sekolah, maka guru dapat bekerjasama dengan pihak lain yang relevan untuk menanganinya, seperti anak-anak autis, anak korban narkoba, anak yang memiliki penyakit kronis, dan lain-lain.
Banyak istilah yang dipergunakan sebagai variasi dari kebutuhan khusus, seperti disability, impairment, dan Handicap. Menurut World Health Organization (WHO), definisi masing-masing istilah adalah sebagai berikut:

Selasa, Juli 09, 2013

Pendidikan Berkebutuhan Khusus



A.   PENGERTIAN PENDIDIKAN INKLUSIF
Pendidikan inklusif adalah pendidikan reguler yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik yang memiliki kelainan atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa pada sekolah regular dalam satu kesatuan yang sistemik. Pendidikan inklusif adalah pendidikan di sekolah biasa yang mengakomodasi semua anak berkebutuhan khusus yang mempunyai IQ normal diperuntukan bagi yang memiliki kelainan (intelectual challenge), bakat istimewa, kecerdasan istimewa dan atau yang memerlukan pendidikan layanan khusus.
Menurut Prof. Dr. Muyono Abdur rahman (UNJ) pendidikan inklusif adalah gabungan pend. Regular dan pend. Khusus ke dalam satu sistem persekolahan yang dipersatukan untuk mempertemukan perbedaan kebutuhan semua siswa.
Pendidikan Inklusif bukan sekedar metode atau pendekatan pendidikan, melainkan suatu bentuk implementasi filosofi yang mengakui kebhinekaan antar manusia yang mengemban misi tunggal untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik dalam rangka meningkatkan kualitas pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa


B.    PERBEDAAN PENDIDIKAN INKLUSIF DENGAN  PENDIDIKAN REGULER DAN PENDIDIKAN TERPADU
Pendidikan pada umumnya adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengem¬bangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Pada umumnya peserta didik dalam pendidikan umum/pendidikan reguler adalah peserta didik normal, sehingga kurikulum, tenaga guru, sarana dan prasarana, lingkungan belajar dan proses pembelajarannya dirancang untuk anak normal. Hal ini karena asumsi yang melandasi adalah bahwa peserta didik memiliki kemampuan yang homogen.

Selasa, Juni 04, 2013

Mengenal Matematika

MATEMATIKA
1. Sejarah Matematika
Kata "matematika" berasal dari kata μάθημα(máthema) dalam bahasa Yunani yang diartikan sebagai "sains, ilmu pengetahuan, atau belajar" juga μαθηματικός (mathematikós) yang diartikan sebagai "suka belajar".
Disiplin utama dalam matematika didasarkan pada kebutuhan perhitungan dalam perdagangan, pengukuran tanah dan memprediksi peristiwa dalam astronomi. Ketiga kebutuhan ini secara umum berkaitan dengan ketiga pembagian umum bidang matematika: studi tentang struktur, ruang dan perubahan.
Pelajaran tentang struktur dimulai dengan bilangan, pertama dan yang sangat umum adalah bilangan natural dan bilangan bulat dan operasi arimetikanya, yang semuanya itu dijabarkan dalam aljabar dasar. Sifat bilangan bulat yang lebih mendalam dipelajari dalam teori bilangan. Investigasi metode-metode untuk memecahkan persamaan matematika dipelajari dalam aljabar abstrak, yang antara lain, mempelajari tentang ring dan field, struktur yang menggeneralisasi sifat-sifat yang umumnya dimiliki bilangan. Konsep vektor, digeneralisasi menjadi vektor ruang dipelajari dalam aljabar linier, yang termasuk dalam dua cabang: struktur dan ruang.

Sabtu, Maret 09, 2013

Mari Bisnis Sekolah


Mari Bisnis Sekolah

Dunia bisnis, sangatlah luas. Apapun bisa dibisniskan dan dijadikan peluang bisnis. Sekarang ini lagi trend bisnis pelatihan, seminar dan kelas-kelas bisnis. Sebelumnya, saya tidak bisa membayangkan seminar yang cuma beberapa jam tapi biayanya bisa puluhan juta rupiah. Dengan diiming-imingi perubahan, dahsyat, revolusi dan sebagainya bisnis ini terbukti cerah dan menjanjikan, buktinya pesertanya tetep membludak.
Sepintas apa yang menjadi jualan mereka berupa berani mimpi, berani berubah, berani mencoba adalah hal-hal yang abstrak dan mengawang-ngawang. Tapi berkat kepiawaian nara sumber memainkan emosi peserta, body languange, pengalaman hidup dan garansi setelah mengikuti pelatihan membuat daya dobrak bagi diri peserta yang tadinya tidak mungkin, menjadi mungkin, tidak bisa menjadi bisa, tidak ada menjadi ada, diam menjadi bergerak. Mereka berani jualan (busines) mimpi, mimpi akan kehidupan yang lebih baik.
Hebat benar mereka, telah menginspirasi bayak orang. Dan ilmunya akan selalu dikenang menjadi titik awal perubahan.
Menurut saya, bisnis pelatihan sifatnya bukan barang dan bukan juga jasa. Karena kalau jasa harus nampak hasilnya dan jelas  pekerjaannya (job desk nya). Jadi inilah bisnis yang bagi saya dulu berpandangan mana ada yang mau beli, mau ikut kelas, apalagi bayar mahal! Ternyata salah pandangan saya ini.
Bidang pendidikan merupakan lahan empuk dan subur untuk dijadikan bisnis. Karena menurut pakar bisnis, ada 2 bidang bisnis yang tidak akan pernah mati, dalam keadaan perang sekalipun; yaitu, pendidikan, dan kesehatan. Orang takut bodoh, karena bodoh berakibat miskin. Begitu juga orang tidak mau sakit, maka apabila sakit maka akan membla-belain mengobati penyakitnya demi mendapatkan kesembuhan.
Ada sebutan bagi bisnis pendidikan yaitu Edu Preneurship. Dimana pendidikan menjadi lahan basah untuk berbisnis. Bisnis di bidang pendidikan bersifat padat modal, mahal dan jangka panjang.
Untuk menilai sukses tidaknya bisnis pendidikan tidak bisa ditentukan oleh bilangan tahun, karena orang perlu bukti. Bayangkan, untuk bisnis sekolah tingkat SD, paling tidak indikator berkualitasnya sekolah tersebut,  dilihat dari lulusannya. Berati harus nunggu selama 6 tahun untuk mendapat kepercayaan masyarakat. Tapi bisa juga berkualitas dilihat dari proses pendidikannya, input yang diberikan kepada siswa, juga hasil berupa kemampuan kognitif, apektif dan psikomotorik siswa.
Bisnis pendidikan adalah bisnis kepercayaan, maka sekalinya dipercaya image itu akan melekat pada lembaganya. Tidak perlu mencari siswa, tapi orang tua lah yang berbondong-bondong mencari lembaga semacam itu.  Sehingga percaya gak, ada sekolah di bintaro yang waiting list nya 3 tahun. Jadi sekolah tersebut tidak pernah membuka pendaftaran, seringnya juga menutup pendaftaran. Padahal harga uang pangkal untuk masuknya saja senilai biaya semesteran di UIN sampai lulus. Jadi kalau mau masuk Play Group harus daftar sejak bayi dalam kandungan, hehehe.
Kalau diperhatikan, sekarang ini bisnis pendidikan makin subur dan menjamur. Dengan menu jualan yang bervariasi seperti, bilingual, full english, lebel IT (Islam terpadu), label Plus, kurikulum Cambridge, dll membuat sekolah seperti perusahaan, profit oriented. Salahkah? tentu tidak.  Tapi ada hal yang ekslusif bahwa sekolah-sekolah tersebut hanya untuk kalangan berduit, borjuis bukan untuk orang miskin. Kualitas sebanding dengan harga, benar adanya. Tapi kalau pendidikan membuat kastanisasi kehidupan, pemenuhan otak, namun pengeringan hati, patut dipertanyakan; bahwa pendidikan telah kehilangan rohnya. Kini di dunia pendidikan tidak bisa lagi diajarkan toleransi, saling menghargai dan saling membutuhkan. Lho bagaimana mau toleransi, saling menghargai dan saling membutuhkan karena di suatu sekolah siswanya bersifat homogen. Kaya, kaya semua. Miskin miskin semuanya. Di suatu sekolah hanya ada satu agama tertentu saja.
Namun siapa yang peduli? tidak ada. Apalagi kini, yang terjadi adalah leberalisasi pendidikan. Siapa saja boleh mendirikan dan mengadakan pendidikan. Bahkan pendidikan luar negeri pun dengan mudah bisa masuk ke sini. Undang-undang BHMN bagi perguruan tinggi yang dibatalkan oleh MK menunjukan wajah pendidikan kita sebenarnya, liberal.
Inilah moment  untuk berbisnis bidang pendidikan. Bisnis pendidikan sebagai provit oriented, MENCARI KEUNTUNGAN.  Benar tidaknya, ini daerah abu-abu, dan sudah terjadi. Pemerintah jelas kecolongan atau tidak perduli membuka kran kebebasan bagi pendirian sekolah/universitas.  Jangan2 menikmati setorannya ya.  Ah.. daripada mengumpat kegelapan malam, lebih baik menyalakan lilin. Dari pada mengumpat pemerintah lebih baik mendirikan sekolah sendiri, bisnis bidang pendidikan, lezaaaat.
Bayangkan, kini perusahaan-perusahan besar mendirikan sekolah sebagai profit wings nya. Bohong kalau di nyatakan sebagai CSR. Lihatlah, group  Pembanguna Jaya, Ciputra, Sampurna, Bakrie, Medco, semuanya punya sekolah bahkan diantaranya punya universitas. Lebih hebat lagi, mereka menggiring siswanya Play Group yang sekolah di lembaga dia untuk masuk SD, lulus  SD digiring ke SMP, terus ke SMA. Dan dengan garansi jaminan kerja di lingkungan dia siswa lulus SMA diarahkan ke Universitas dia. Lulus kuliah, bekerja dilingkungan (perusahaan) dia, setelah berpenghasilan dan sukses mereka  diarahkam  agar membeli produk dia yaitu perumahan. Dia hidup, sekolah, kuliah, bekerja, berpenghasilan, ber- pengeluaran, beranak-pinak  semuanya berada dan dapat oleh dia perusahaan besar tersebut. Dia mengeluarkan gaji dan dia pula menyedot uangnya. HEBAT YA …..  Inilah blunder bagi si miskin, berkurangnya kesempatan dan daya saing.
Kalau kita masih berfikir, bolehkan bisnis pendidikan? mbok, ya telat, mang kemana aja, hehe. Tapi, better let than never. Ayo bisnis pendidikan.

Kamis, Januari 03, 2013

Sekolah Ijazah


Sekolah Ijazah

SEKARANG orientasi orang kuliah, sekolah, dan belajar tidak lagi berada pada satu titik fokus; mendapatkan pengetahuan. Tetapi telah merambah pada anggapan bahwa sekolah, dan kuliah adalah untuk mendapatkan ijazah atau legalitas dimana nantinya akan digunakan untuk formalitas persyaratan masuk kerja.
Sebelum masa revolusi industri, orang belajar berorientasi untuk mendapatkan ilmu. Ilmu yang didapatkan itu digunakan untuk menghasilkan penemuan baru, membuat sebuah karya tertentu atau paling banter untuk memperoleh ketenaran bahwa dia orang berilmu, ilmuan dan cendikiawan. Tetapi, tidak ada orientasi ketika itu bahwa belajar atau kuliah untuk mendapatkan legalisir pengakuan ijazah sebagai syarat masuk kerja atau menentukan posisi seseorang dalam sebuah pekerjaan.
Setelah revolusi industri semua tujuan keilmuan berubah menjadi jalan mencari pekerjaan, dan profesi. Memang wajar, karena saat ini orang dinilai berguna tidaknya tergantung dari keahlian yang dimiliki. Dan bukti orang dikatakan memiliki keahlian ditunjukkan dengan legalitas ijazah. Jadi jika seseorang punya ilmu yang luas dan keahlian yang banyak tetapi ia tidak punya legalitas, ijazah tetap saja orang ini belum dianggap berpengetahuan.
Berbeda ceritanya jika ada orang yang ingin jadi pengusaha, bukan karyawan perusahaan atau pegawai pemerintah. Karena yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pengusaha adalah keahlian saja tampa tersyarat formalitas ijazah atau surat bukti yang terlegalisir berpendidikan. Sekarang yang sedang kita bicarakan terkait orang yang ingin jadi pegawai pemerintah atau karyawan perusahaan. Berhubung kecendrungan saat ini, mayoritas masyarakat Indonesia lebih banyak memilih menjadi karyawan perusahaan atau pegawai pemerintah.
Pola seperti ini pada akhirnya akan membentuk kelas baru dalam masyarakat, yaitu kaum terpelajar secara formal dan tidak terpelajar. Yang terpelajar pun ada pembagiannya lagi, tergantung tingkat atau strata pendidikan yang ditempuh. Semakin tinggi strata pendidikan seseorang dalam bidang tertentu, yang dibuktikan dengan ijazah, menunjukkan bahwa orang itu memiliki keahlian yang lebih berbobot dan berkualitas dari yang lain.
Dan ini semua ada dampaknya, di mana yang pendidikannya lebih tinggi akan memperoleh pekerjaan yang lebih berkelas dan terhormat dari mereka yang pendidikannya lebih rendah atau tidak berpendidikan, sekali lagi dibuktikan dengan ijazah. Walaupun ada persyaratan lain ketika melamar kerja, seperti, berpengalaman sekian tahun, tetapi tetap saja strata pendidikan menentukan segalanya.
Misalnya, lulusan sekolah dasar (SD), SLTP, dan SLTA, atau yang tidak sekolah formal sama sekali, paling banter saat ini hanya bisa bekerja sebagai buruh lapangan, jadi office boy, tukang bersih-bersih, buruh bangunan atau pekerjaan lainnya yang bisa dibilang rendah. Dalam hal gaji pun berbeda jauh antara yang berpendidikan lebih tinggi dengan mereka yang pendidikannya lebih rendah atau tidak berpendidikan formal.
Untuk buktinya. Sekarang coba lihat dan cari, adakah perusahaan atau instansi pemerintah ketika akan merekrut anggota, pegawai karyawan baru, yang membuat pernyataan bahwa penerimaan anggota, pegawai dan karyawan tergantung dari segi keahlian, baik ia berpendidikan formal atau tidak? Saya belum menemukan yang seperti itu. Pasti semuanya mensyaratkan bahwa calon anggota, pegawai dan karyawan minimal harus lulusan SMP, SMA, Diploma, SI dan lain sebagainya.
Akhirnya apa yang terjadi? Setiap orang berlomba-lomba memperoleh pendidikan formal. Tujuannya satu, mendapatkan ijazah. Setiap tahun peminat sekolah formal terus meningkat. Bahkan ada yang berani bayar ratusan juta yang penting anaknya bisa masuk universitas atau tempat pendidikan formal tertentu. Sehingga muncullah sarana-sarana licik, seperti pembelian ijazah tanpa harus belajar, sogok menyogok, kampus bayangan, dan lain sebagainya.  
Kelihatannya memang bagus, karena masyarakat kita berlomba-lomba mengenyam pendidikan. Tetapi sebenarnya ada dampak negatif yang timbul, yaitu orientasi mengenyam pendidikan berubah, tidak lagi memperoleh ilmu, tetapi telah beralih untuk memperoleh legalitas ijazah. Akhirnya muncullah sarjana-sarjana, cendikiawan-cendikiawan yang tidak berbobot di bidangnya. Yang bisa dibanggakan cuma strata pendidikan mereka, bukan kemampuan mereka. Wajarlah jika saat ini sangat sedikit muncul orang-orang hebat, semisal bung Karno, Agus Salim, dan Muhammad Nasir di Indonesia.
Sekarang, hampir semua orang justru sibuk memburu lembaran kertas yang bernama ijazah atau sertifikat itu. Buat apa? Tentu saja untuk mendapatkan status yang lebih baik dan ujung-ujungnya mendapatkan lembaran kertas lainnya: uang. Apakah ini pertanda, dunia pendidikan telah mulai bergeser menganut paham materialisme? Entahlah…
So, apakah salah mengharapkan materi dan jabatan? Tidak salah, kita butuh uang untuk makan, minum, berpakaian, dsb. Namun materi tak layak menjadi landasan dalam hidup kita. Semua materi itu hanya sementara. Ia akan segera terkubur seiring dengan berlalunya waktu.

Minggu, Desember 16, 2012

Lomba Katrol Nilai


Lomba Katrol Nilai

Sungguh ironis, dengan adanya berbagai kebijakan yang dibuat oleh para pembuat kebijakan pendidikan di negeri ini, guru bagaikan telur diujung tanduk. Bagaimana tidak, di satu sisi peran guru adalah pengajar, pendidik dan pelatih. Guru dituntut mengajarkan ilmunya kepada peserta didik, transfer of knowledge. Guru dituntut untuk bisa mendidik peserta didiknya agar mempunyai sifat dan sikap yang santun, anggun dan bermoral. Dan guru dituntut untuk bisa melatih peserta didiknya agar terbiasa untuk disiplin, tidak putus asa dan bekerja keras.
Di sisi lain, dengan berubahnya sistem penilaian kelulusan peserta didik di SD/MI yang tidak lagi menjadikan nilai Ujian Nasional (UN) sebagai satu-satunya patokan kelulusan peserta didik, diakui atau tidak telah meringankan beban peserta didik dan guru. Guru tidak lagi harus bersusah payah mengatur strategi agar semua peserta didiknya mendapatkan nilai yang tinggi dalam UN. Sebagaimana kasus di Surabaya, contekan masal yang digagas pihak sekolah yang akhirnya dibongkar seorang orang tua peserta didik. Dan banyak lagi kasus-kasus dimana pihak sekolah yang telah dengan sengaja mengatur contekan masal selama UN berlangsung sebagai usaha terakhir dalam mendongkrak nilai UN peserta didiknya.
 Apakah berubahnya sistem patokan penilaian kelulusan, yang sekarang juga mempertimbangkan nilai raport dari kelas 4 sampai 6, telah berhasil mengatasi masalah?
 Oh, tidak bisa. Justru timbul masalah baru. Bagaimana tidak, untuk mengantisipasi anjloknya nilai UN peserta didik, maka nilai raport peserta didik harus tinggi. Sebagaimana diketahui bahwa Nilai Akhir = NS (40%) + UN (60%). Sedangkan NS = nilai rapor (40%) + US (60%). Disinilah masalah itu timbul. Kok bisa? Sekarang beban berat juga harus dipikul oleh guru kelas 4, 5 dan 6. Mereka harus mengupayakan nilai raport peserta didik mulai dari kelas 4 sampai kelas 6 harus baik. Mengantisipasi jika nilai UN mereka anjlok. Entah bagaimana caranya, pokoknya nilai raport harus bagus. Di-remidi, dikatrol, bahkan disulap. Emang guru sekarang juga tukang sulap?

Kamis, Desember 13, 2012

UN Bahasa Indonesia


PAKET 2
PERSIAPAN UJIAN NASIONAL BAHASA INDONESIA SD

Berilah tanda silang (x) pada huruf A, B, C, atau D di depan jawaban yang benar!
Bacalah untuk soal nomor 1-5!
            Lambang Negara Indonesia burung garuda. Burung garuda berasal dari elang jawa. Kini keberadaan burung tersebut tinggal beberapa puluh pasang saja. Populasi burung yang dilindungi itu dapat dijumpai di taman nasional gunung Halimun, Sukabumi, Jawa Barat. Selain burung elang, ada beberapa hewan yang dilindungi, seperti badak jawa di taman Nasional Ujung Kulon. Harimau di taman nasional Gunung Leuser dan di taman nasional Way Kambas.
            Menurut penjaga hutan, burung tersebut tidak bias dilihat setiap saat. Burung elang jawa akan keluar dari sarangnya jika lapar. Kelelawar, tikus, tupai, dan reptil adalah makanan burung elang.
            Populasi burung ini berkurang karena banyak pemburu liar yang mengambil elang muda. Untuk melestarikan ini, pemerintah diharapkan lebih giat lagi melaksanakan konservasi hutan.

Sabtu, November 24, 2012

Miskinpun di HARAM-kan Sakit


Miskinpun di HARAM-kan Sakit

Ngenes. Sedih. Bingung. Marah. Kecewa. Mungkin itu kata - kata yang tepat buat ngegambarin perasaan saya ke pemerintah Indonesia saat ini. Bagaimana tidak? Beberapa waktu yang lalu acara televisi menayangkan berita tentang seorang ibu yang terpaksa harus melahirkan di becak gara - gara pihak rumah sakit menolak beliau lantaran beliau berasal dari keluarga tidak mampu sehingga mereka tidak memiliki biaya untuk membayar biaya administrasi.
Ditolak rumah sakit lantaran berasal dari keluarga tidak mampu. Menomorsatukan uang ketimbang nyawa orang. Jadi, rakyat kurang mampu tidak boleh mendapat fasilitas yang layak ketika sakit? Hanya orang berduit sepertinya yang bisa merasakan fasilitas wah ketika sakit. Ke mana pemerintah kita? Di mana hati nurani pemerintah kita? Sampai kapan pemerintah berdiam diri melihat situasi seperti ini? Bukankah itu sudah seharusnya menjadi kewajiban pemerintah untuk menyejahterakan rakyatnya? Sungguh, amat menggelikan negeri ini.

Sabtu, Juli 14, 2012

Bloger Hibah Satu Juta Buku

Setelah melewati beberapa fase, pertama, kedua dan ketiga, kali ini Blogger Hibah Sejuta Buku sampai juga ke fase keempat. Seperti sudah diketahui sebelum-sebelumnya bahwa pada fase pertama (2009) BHSB menuju sebuah tempat kepulauan Meranti-Riau, kemudian lanjut kepada fase kedua yang mengambil tujuan di Papua (oktober-desember 2011) Lantas lanjut ke fase ketiga, di mana kita kembali menuju sebuah sekolah terpencil di kedalaman Manusela (februari-april 2012) Maka pada fase keempat ini kita akan kembali menuju sebuah tempat, yaitu di Aceh. Yah, di Aceh dengan beberapa sekolah yang akan kami tuju.
MTs Dayah Nurul Iman
Melalui akte notaris nomor: 07/2006, Dayah Nurul Iman resmi berdiri dan mempunyai kekuatan hukum, hari itu Ahad tanggal 16 november 2005 di sebuah kampung kecil Cot Aneuk Batee, kecamatan Peusangan Siblah Krueng berdirilah sebuah tempat pendidikan tradisional di atas tanah yang lebih kurang 1 hektar.

Selasa, Januari 10, 2012

RPP Bahasa Inggris kelas 1 Semester 2 (Berkarakter)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)


NAMA SEKOLAH               : _____________________
Mata Pelajaran                        : Bahasa Inggris
Kelas/Semester                        : I/2
Standar Kompetensi               : 5.         Memahami instruksi sangat sederhana dengan tindakan dalam konteks kelas
Kompetensi Dasar                   : 5.1       Merespon dengan mengulang kosakata baru dalam berbagai permainan dengan ucapan lantang
Alokasi Waktu                        : 2 x 35 menit
Tujuan Pembelajaran**           : 1.         Siswa dapat mengulang apa yang didengarnya dengan suara lantang
                                                  2.         Siswa dapat mengulang apa yang didengarnya dengan pengucapan bahasa Inggris yang benar
Karakter siswa yang diharapkan : Dapat dipercaya ( Trustworthines)
Rasa hormat dan perhatian ( respect )
Tekun ( diligence )
Tanggung jawab ( responsibility )
Berani ( courage
Metode Pembelajaran             : 1.         Siswa bersama-sama mengulang dengan suara lantang kosakata-kosakata baru yang diucapkan guru  atau didengar dari kaset/CD
                                                  2.         Masing-masing siswa mengulang dengan suara lantang kosakata-kosakata baru yang diucapkan guru atau didengar dari kaset/CD

Sabtu, Januari 07, 2012

RPP Bahasa Inggris Kelas 1 Semester 1 (Berkarakter)


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN




SD                                           :  _____________________
Mata Pelajaran                        :  Bahasa Inggris
Kelas/Semester                        :  I/1
Standar Kompetensi               :  Memahami instruksi sangat sederhana dengan tindakan dalam konteks kelas
Kompetensi Dasar                   :  Merespon dengan mengulang kosakata baru dengan ucapan lantang
Alokasi Waktu                        : 2 x 35 menit
Tujuan Pembelajaran**           :  -     Siswa dapat mengulang apa yang didengarnya dengan suara lantang
                                                   -     Siswa dapat mengulang apa yang didengarnya dengan pengucapan bahasa Inggris yang benar
Karakter siswa yang diharapkan : Dapat dipercaya ( Trustworthines)
Rasa hormat dan perhatian ( respect )
Tekun ( diligence )
Tanggung jawab ( responsibility )
Berani ( courage )
Metode Pembelajaran             : -     Siswa bersama-sama mengulang dengan suara lantang kosakata-kosakata baru yang diucapkan atau didengar dari kaset/CD
-       Masing-masing siswa mengulang dengan suara lantang kosakata-kosakata baru yang diucapkan guru atau didengar dari kaset/CD

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran:
  1. Kegiatan Pendahuluan
Apersepsi  dan Motivasi :
·  Guru memperlihatkan gambar besar yang mengilustrasikan topik bab yang dibahas.
·  Guru bertanya pada siswa apakah mereka mengetahui nama-nama benda yang ada dalam gambar.
2.      Kegiatan Inti

Kamis, Juli 28, 2011

Kesulitan dalam belajar

Kesulitan Belajar Siswa Dan Bimbingan Belajar

A.    Kesulitan Belajar.
Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah,  kita dihadapkan dengan  sejumlah karakterisktik siswa yang beraneka ragam. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit pula siswa yang justru dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan.
 Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya.
Kesulitan belajar siswa mencakup pengetian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning diasbilities. Di bawah ini akan diuraikan dari masing-masing pengertian tersebut.

Terima Kasih sudah berkunjung ke punyahari.blogspot.com