Welcome to punyahari.blogspot.com...selamat datang di punyahari.blogspot.com

Jumat, Juli 12, 2013

Anak Berkebutuhan Khusus


PENGERTIAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan (phisik, mental-intelektual, social, emosional) dalam proses pertumbuhan/ perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
Dengan demikian, meskipun seorang anak mengalami kelainan/ penyimpangan tertentu, tetapi kelainan/penyimpangan tersebut tidak signifikan sehingga mereka tidak memerlukan pelayanan pendidikan khusus, anak tersebut bukan termasuk anak dengan kebutuhan khusus.
Ada bermacam-macam jenis anak dengan kebutuhan khusus, tetapi khusus untuk keperluan pendidikan inklusi, anak dengan kebutuhan khusus akan dikelompokkan menjadi 9 jenis. Berdasarkan berbagai studi, ke 9 jenis ini paling sering dijumpai di sekolah-sekolah reguler. Jika di luar 9 jenis tersebut masih dijumpai di sekolah, maka guru dapat bekerjasama dengan pihak lain yang relevan untuk menanganinya, seperti anak-anak autis, anak korban narkoba, anak yang memiliki penyakit kronis, dan lain-lain.
Banyak istilah yang dipergunakan sebagai variasi dari kebutuhan khusus, seperti disability, impairment, dan Handicap. Menurut World Health Organization (WHO), definisi masing-masing istilah adalah sebagai berikut:
Disability : keterbatasan atau kurangnya kemampuan (yang dihasilkan dari impairment) untuk menampilkan aktivitas sesuai dengan aturannya atau masih dalam batas normal, biasanya digunakan dalam level individu.
1.  Impairment: kehilangan atau ketidaknormalan dalam hal psikologis, atau struktur anatomi atau fungsinya, biasanya digunakan pada level organ.
2.  Handicap : Ketidak beruntungan individu yang dihasilkan dari impairment atau disability yang membatasi atau menghambat pemenuhan peran yang normal pada individu.
 Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik.

B. JENIS – JENIS ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Konsep anak berkebutuhan khusus (children with special needs) memiliki makna dan spektrum yang lebih luas dibandingkan dengan konsep anak luar biasa (exceptional children). Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang secara pendidikan memerlukan layanan yang spesifik yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus ini memiliki apa yang disebut dengan hambatan belajar dan hambatan perkembangan (barier to learning and development). Oleh sebab itu mereka memerlukan layanan pendidikan yang sesuai dengan hambatan belajar dan hambatan perkembang yang dialami oleh masing-masing anak.
Yang termasuk kedalam anak berkebutuhan khusus antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, anak berkebutuhan khusus memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.
1. Tunanetra
Tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan. tunanetra dapat diklasifikasikan kedalam dua golongan yaitu: buta total (Blind) dan low vision. Definisi Tunanetra menurut Kaufman & Hallahan adalah individu yang memiliki lemah penglihatan atau akurasi penglihatan kurang dari 6/60 setelah dikoreksi atau tidak lagi memiliki penglihatan.
Karena tunanetra memiliki keterbataan dalam indra penglihatan maka proses pembelajaran menekankan pada alat indra yang lain yaitu indra peraba dan indra pendengaran.
Oleh karena itu prinsip yang harus diperhatikan dalam memberikan pengajaran kepada individu tunanetra adalah media yang digunakan harus bersifat taktual dan bersuara, contohnya adalah penggunaan tulisan braille, gambar timbul, benda model dan benda nyata. sedangkan media yang bersuara adalah tape recorder dan peranti lunak JAWS. Untuk membantu tunanetra beraktifitas di sekolah luar biasa mereka belajar mengenai Orientasi dan Mobilitas. Orientasi dan Mobilitas diantaranya mempelajari bagaimana tunanetra mengetahui tempat dan arah serta bagaimana menggunakan tongkat putih (tongkat khusus tunanetra yang terbuat dari alumunium)

2. Tunarungu
Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen. Klasifikasi tunarungu berdasarkan tingkat gangguan pendengaran adalah: Gangguan pendengaran sangat ringan (27-40dB), Gangguan pendengaran ringan (41-55dB), Gangguan pendengaran sedang(56-70dB), Gangguan pendengaran berat (71-90dB), Gangguan pendengaran ekstrim/tuli (di atas 91dB).
Karena memiliki hambatan dalam pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara. Cara berkomunikasi dengan individu menggunakan bahasa isyarat, untuk abjad jari telah dipatenkan secara internasional sedangkan untuk isyarat bahasa berbeda-beda di setiap negara. saat ini dibeberapa sekolah sedang dikembangkan komunikasi total yaitu cara berkomunikasi dengan melibatkan bahasa verbal, bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Individu tunarungu cenderung kesulitan dalam memahami konsep dari sesuatu yang abstrak.

3. Tunagrahita
Tunagrahita adalah individu yang memiliki intelegensi yang signifikan berada dibawah rata-rata dan disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi prilaku yang muncul dalam masa perkembangan. klasifikasi tunagrahita berdasarkan pada tingkatan IQ. Tunagrahita ringan (IQ : 51-70), Tunagrahita sedang (IQ : 36-51), Tunagrahita berat (IQ : 20-35), Tunagrahita sangat berat (IQ dibawah 20). Pembelajaran bagi individu tunagrahita lebih dititik beratkan pada kemampuan bina diri dan sosialisasi.

4. Tunadaksa
Tunadaksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, termasuk celebral palsy, amputasi, polio, dan lumpuh.
Tingkat gangguan pada tunadaksa adalah ringan yaitu memiliki keterbatasan dalam melakukan aktifitas fisik tetap masih dapat ditingkatkan melalui terapi, sedang yaitu memilki keterbatasan motorik dan mengalami gangguan koordinasi sensorik, berat yaitu memiliki keterbatasan total dalam gerakan fisik dan tidak mampu mengontrol gerakan fisik.

5.  Tunalaras
Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. individu tunalaras biasanya menunjukan prilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku disekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar.

6. Kesulitan belajar
Adalah individu yang memiliki gangguan pada satu atau lebih kemampuan dasar psikologis yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa, berbicara dan menulis yang dapat mempengaruhi kemampuan berfikir, membaca, berhitung, berbicara yang disebabkan karena gangguan persepsi, brain injury, disfungsi minimal otak, dislexia, dan afasia perkembangan. individu kesulitan belajar memiliki IQ rata-rata atau diatas rata-rata, mengalami gangguan motorik persepsi-motorik, gangguan koordinasi gerak, gangguan orientasi arah dan ruang dan keterlambatan perkembangan konsep.

C. CIRI - CIRI ABK (ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS)
a. Tunanetra
Ciri-cirinya adalah :

1. Tidak dapat melihat gerakan tangan pada jarak kurang dari satu meter.
2. Ketajaman penglihatan 20/200 kaki yaitu ketajaman yang mampu melihat suatu benda pada jarak 20 kaki.
3. Bidang penglihatannya tidak lebih luas dari 20ยบ.
4. Kesulitan dalam mempersepsi objek.
5. Ciri-ciri dari segi fisik antara lain: mata juling, sering berkedip, menyipitkan mata, kelopak mata merah, gerakan mata tak beraturan dan cepat, mata selalu berair dan sebagainya.

Low Vision, Ciri-ciri, antara lain :
1) Menulis dan membaca dengan jarak yang sangat dekat
2) Hanya dapat membaca huruf yang berukuran besar



3) Memicingkan mata atau mengerutkan kening terutama di cahaya terang atau saat mencoba melihat sesuatu.
4) Gangguan masalah orientasi dan mobilitas.
5) Perlu tongkat putih untuk berjalan.
6) Umumnya memerlukan sarana baca dengan huruf Braille, radio dan pustaka kaset.

Hampir buta, memiliki ciri-ciri, antara lain:
1) Penglihatan menghitung jari kurang empat kaki
2) Penglihatan tidak bermanfaat bagi orientasi mobilitas
3) Harus memakai alat non visual

Buta total, memiliki ciri-ciri, antara lain :
1) Tidak mengenal adanya rangsangan sinar
2) Seluruhnya tergantung pada alat indera selain mata

b. Tunarungu
Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 20-30 dB (slight losses), memiliki ciri-ciri:
1) Kemampuan mendengan masih baik karena berada digaris batas antara pendengaran normal dan kekurangan pendengaran taraf ringan.
2) Tidak mengalami kesulitan memahami pembicaraan dan dapat mengikuti sekolah biasa dengan syarat tempat duduknya perlu diperhatikan, terutama harus dekat guru.
3) Dapat belajar bicara secara efektif dengan melalui kemampuan pendengarannya.
4) Perlu diperhatikan kekayaan perbendaharaan bahasa supaya perkembangan bicara dan bahasanya tidak terhambat.
5) Yang bersangkutan menggunakan alat bantu dengan untuk meningkatkan ketajaman daya pendengarannya.
 Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 30-40 dB (mild losses), memiliki ciri-ciri:
1) Dapat mengerti percakapan biasa pada jarak sangat dekat.
2) Tidak mengalami kesulitan untuk mengekspresikan isi hatinya.
3) Tidak dapat menangkap suatu percakapan yang lemah.
4) Kesulitan menangkap isi pembicaraan dari lawan bicaranya, jika posisi tidak searah dengan pandangannya (berhadapan).

 Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 40-60 dB (moderate losses), memiliki ciri-ciri:
1) Dapat mengerti percakapan keras pada jarak dekat, kira-kira satu meter, sebab dia kesulitan menangkap percakapan pada jarak normal.
2) Sering terjadi mis-understanding terhadap lawan bicaranya jika diajak bicara.
3) Kesulitan menggunakan bahasa dengan benar dalam percakapan.
4) Penyandang tunarungu kelompok ini mengalami kelainan bicara, terutama pada huruf konsonan.
5) Pembendaharaan kosa katanya sangat terbatas.
 Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 60-75 dB (severe losses), memiliki ciri-ciri:
1) Kesulitan membedakan suara.
2) Tidak memiliki kesadaran bahwa benda-benda yang ada disekitarnya memiliki getaran suara.

Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 75 dB keatas (profoundly losses), memiliki ciri-ciri:
1) Pada kelompok ini hanya dapat mendengar suara keras sekali pada jarak kira-kira satu inci (± 2,54 cm) atau sama sekali tidak mendengar.
2) Biasanya tidak menyadari bunyi keras, mungkin juga ada reaksi jika dekat telinga.
3) Meskipun mengunakan alat pengeras suara, tetapi tetap tidak dapat memahami atau menangkap suara.

c. Tunagrahita
Ciri-cirinya adalah:
1. Lamban dalam mempelajari hal-hal yang baru.
2. Kesulitan dalam mengeneralisasi dan mempelajari hal-hal yang baru.
3. Kemampuan bicaranya sangat kurang bagi anak tugarahita berat.
4. Cacat fisik dan perkembangan gerak.
5. Kurang dalam kemampuan menolong diri sendiri..
6. Tingkah laku dan interaksi yang tidak lazim.
7. Tingkah laku kurang wajar dan terus menerus.

Memiliki kelainan yg meliputi fungsi inelektual umum di bawah rata-rata (Sub-avarage), yaitu IQ 84 kebawah sesuai tes.
1. Kekurangan dalam perilaku adatif.
2. Kemampuan sosialisasinya terbatas.
3. Mengalami kesulitan dalam konsentrasi.
4. Cenderung mamiliki kemampuan berfikir konkret dan sukar berfikir.
5. Tidak mampu menyimpan intruksi yang sulit.
6. Kurang mampu menganalisis dan menilai kejadian yang dihadapi.

d. Tunadaksa
Anak tunadaksa ortopedi, memiliki ciri-ciri, sebagai berikut :
1) Memiliki kelainan atau kecacatan tertentu pada bagian tulang, otot tubuh, ataupun daerah persendian.
2) Kelainan dibawa sejak lahir maupun karena penyakit atau kecelakaan sehingga mengakibatkan terganggunya fungsi tubuh secara normal.
3) Kelainan tubuh sifatnya menetap dan tidak akan berubah dalam waktu 6 bulan.
Cerebral palsy (Cerebral Palsy berasal dari dua kata yaitu  Cerebrum atau otak besar dan palcy yang artinya  kelumpuhan atau kelayuhan, dengan kata lain Cerebral Palsy atau orang sering menyebut dengan singkatan CP, dapat diartikan secara sederhana yaitu anak yang memiliki kelumpuhan otak. Kelumpuhan atau kelayuhan otak  memberi dampak yang beragam, dimana dampak tersebut berupa beberapa gejala yang menghambat mobilitas, koordinasi, kecerdasan, persepsi, dan komunikasi).
1) Ringan, dapat berjalan tanpa alat bantu, mampu bicara dan dapat menolong dirinya sendiri
2) Sedang, memerlukan bantuan untuk brjalan, latihan berbicara, dan mengurus diri sendiri
3) Berat, memerlukan perawatan tetap dalam ambulansi, berbicara, dan menolong diri sendiri.

e.  Autis
Memiliki ciri-ciri, sebagai berikut :
1. Tidak mampu dalam bersosialisasi dan berkomunikasi.
2. Mempunyai daya imajinasi yang tinggi dalam bermain dan mempunyai perilaku, minat dan aktifitas yang unik (aneh).
3. Menunjukkan gejala-gejala adanya gangguan komunikasi, interaksi social, gangguan sensoris, pola bermain, prilaku dan emosi.
4. Berusaha menarik diri dari kontak sosial, dan cenderung menyendiri dari keramaian sosial.
5. Suka ekolalia (membeo)
6. Marah bila berubah dari rutinitas
7. Kadang suka menyakiti diri sendiri
8. Temper tantrum
(perilaku marah pada anak-anak prasekolah. Mereka mengekspresikan kemarahan mereka dengan berbaring di lantai, menendang, berteriak, dan kadang-kadang menahan napas mereka. Tantrum yang alami, terjadi pada anak-anak yang belum mampu menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan rasa frustrasi mereka, karena tidak terpenuhinya keinginan mereka).
9. Suka mengeluarkan suara yang kurang lazim (nada tinggi atau rendah).

f. Tunaganda
Memiliki ciri-ciri, sebagai berikut :
1. Kurang komunikasi atau sama sekali tidak dapat berkomunikasi.
2. Perkembangan motorik dan fisiknya terlambat.
3. Seringkali menunjukkan perilaku yang aneh dan tidak bertujuan.
4. Kurang dalam keterampilan menolong diri sendiri.
5. Jarang berperilaku dan berinteraksi yang sifatnya konstruktif.
6. Kecenderungan lupa akan keterampilan keterampilan yang sudah dikuasai.
7. Memiliki masalah dalam mengeneralisasikan keterampilan keterampialan dari suatu situasi ke situasi lainnya.

g. Lamban belajar (slow learner) :
Lamban belajar (slow learner) adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita. Dalam beberapa hal mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir, merespon rangsangan dan adaptasi sosial, tetapi masih jauh lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita, lebih lamban dibanding dengan yang normal, mereka butuh waktu yang lebih lama dan berulang-ulang untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun non akademik, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. rata-rata prestasi belajarnya selalu rendah (kurang dari 6),
b. dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik sering terlambat dibandingkan teman-teman seusianya,
c. daya tangkap terhadap pelajaran lambat,
d. pernah tidak naik kelas.

h.  Anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik
Anak yang berkesulitan belajar spesifik adalah anak yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus (terutama dalam hal kemampuan membaca, menulis dan berhitung atau matematika), diduga disebabkan karena faktor disfungsi neugologis, bukan disebabkan karena factor inteligensi (inteligensinya normal bahkan ada yang di atas normal).
Anak berkesulitan belajar spesifik dapat berupa kesulitan belajar membaca (disleksia), kesulitan belajar menulis (disgrafia), atau kesulitan belajar berhitung (diskalkulia), sedangkan mata pelajaran lain mereka tidak mengalami kesulitan yang signifikan (berarti) dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a.  Anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia)
1) perkembangan kemampuan membaca terlambat,
2) kemampuan memahami isi bacaan rendah,
3) kalau membaca sering banyak kesalahan

b. Anak yang mengalami kesulitan belajar menulis (disgrafia)
1) kalau menyalin tulisan sering terlambat selesai,
2) sering salah menulis huruf b dengan p, p dengan q, v dengan u, 2 dengan 5, 6 dgn 9, dan sebagainya,
3) hasil tulisannya jelek dan tidak terbaca,
4) tulisannya banyak salah/terbalik/huruf hilang,
5) sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris.

c. Anak yang mengalami kesulitan belajar berhitung (diskalkulia)
1) sulit membedakan tanda-tanda: +, -, x, :, >, <, =
2) sulit mengoperasikan hitungan/bilangan,
3) sering salah membilang dengan urut,
4) sering salah membedakan angka 9 dengan 6; 17 dengan 71, 2 dengan 5, 3 dengan 8, dan sebagainya,
5) sulit membedakan bangun-bangun geometri.

Reaksi:

1 komentar:

Idah Ceris mengatakan...

Perlu penanganan khus untuk anak2 seperti di atas ya, Mas.

Kudu sabar. :)

Terima Kasih sudah berkunjung ke punyahari.blogspot.com