Welcome to punyahari.blogspot.com...selamat datang di punyahari.blogspot.com

Sabtu, November 14, 2009

TEORI MAKRO SOSIOOLGI

-->

TEORI MAKRO SOSIOLOGI (KONFLIK & SISTEM)

2. Teori Konflik
2.1. Teori Konflik Awal
Dahrendort menggambarkan asumsi-asumsi utama teori konflik adalah :
Ø Setiap masyarakat tunduk pada proses perubahan; perubahan ada di mana-mana;
Ø Disensus dan konflik terdapat di mana-mana;
Ø Setiap unsur masyarakat memberikan sumbangan pada disintegrasi dan perubahan masyarakat;
Ø Setiap masyarakat didasarkan pada paksaan beberapa orang anggota terhadap anggota lain (lihat Dahrendorf, 1976:162)
a) Karl Marx
Sumbangan Marx kepada sosiologi terletak pada teorinya mengenai kelas. Marx berpendapat bahwa sejarah masyarakat hingga kini adalah sejarah perjuangan kelas (Coser, 1977:48). Dengan munculnya kapitalisme terjadi pemisahan tajam antara mereka yang menguasai alat produksi dan hanya mereka yang mempunyai tenaga. Pengembangan kapitalisme memperuncing kontradiksi antara kedua ketegori sosial sehingga pada akhirnya terjadi konflik diantara kedua kelas. Menurut ramalan Marx kaum Proletar akan memenangkan perjuangan kelas ini dan akan menciptakan masyarakat tanpa kelas dan tanpa negara. Konsep penting lainnya adalah konsep alienasi. Marx mengemukakan bahwa sejarah manusia memperlihatkan peningkatan penguasaan manusia terhadap alam serta peningkatan alienasi manusia.
b). Max Weber
Karya Weber sering dikaitkan dengan teori sosiologi yang berbeda. Uraian Weber mengenai tindakan sosial sebagai pokok perhatian sosiologi dijadikan dasar bagi pengembangan teori interaksionisme simbolik (Turner, 1978). Weber pun dianggap sebagai tokoh yang memberi sumbangan terhadap fungsionalisme awal (Turner, 1978). Namun Weber dianggap pula sebagai penganut teori konflik (Collins, 1968).
2.2. Teori Konflik Modern
a) Ralf Dahrendorf
Dia menolak beberapa pandangan Marx. Dia mengamati bahwa perubahan sosial tidak hanya datang dari dalam tetapi dapat juga dari luar masyarakat. Namun perubahan dari dalam masyarakat tidak selalu disebabkan konflik sosial, tetapi konflik kelas terdapat pula konflik sosial yang berbentuk lain. Konflik tidak selalu menghasilkan revolusi dan perubahan sosial dapat terjadi tanpa revolusi. Selanjutnya ia melihat bahwa kelas-kelas sosial tidak selalu terlibat dalam konflik.Maka ia mencatat bahwa kekuasaan politik selalu mengikuti kekuasaan di bidang industri. Dengan demikian, konflik merupakan sumber terjadinya sumber terjadinya perubahan sosial (Dahrendorf, 1976).
b) Lewis Coser
Konflik mempunyai fungsi positif bagi masyarakat (Coser, 1964). Ia mengembangkan sejumlah proposisi mengenai fungsi konflik atas dasar asas yang ditegakkan oleh tokoh teori konflik lain, George Simmel. Menurut definisi kerja Coser, konflik adalah perjuangan mengenai nilai serta tuntutan atas status, kekuasan dan sumber daya yang bersifat langka dengan maksud menetralkan, mencenderai atau melenyapkan lawan (Coser, 1964:8). Kajian Coser terbatas pada fungsi positif dari konflik, yaitu dampak yang mengakibatkan peningkatan dalam adaptasi hubungan sosial atau kelompok tertentu.
3. Teori Sistem
a) Shrode dan Voich ( 1974 )
“ Suatu sistem memiliki konotasi penting. Sistem adalah serangkaian bagian-bagian yang saling berhubungan dengan bebas dan bersama-sama dalam pencapaian tujuan umum keseluruhan dalam suatu lingkungan yang kompleks.”
b) August Comte
“ Sistem dalam hal adanya saling ketergantungan kerjasama ikatan-ikatan sosial , misalnya yang terjadi dalam pembagian kerja ekonomi “
c) Spencer
“ Perubahan pada suatu bagian di masyarakat maupun organisme akan membawa dampak secara kesuluruhan .”
d) Karl Marx
“ Menggunakan sistem dalam pandangannya tentang masyarakat dan kapitalis yang mempunyai hubungan antar kelas “

0 komentar:

Terima Kasih sudah berkunjung ke punyahari.blogspot.com