Welcome to punyahari.blogspot.com...selamat datang di punyahari.blogspot.com

Jumat, April 17, 2009

LASKAR PELANGI SEBUAH USAHA BELA NEGARA DALAM DUNIA PENDIDIKAN

LASKAR PELANGI SEBUAH USAHA BELA NEGARA DALAM DUNIA PENDIDIKAN
Berdasarkan undang-undang Sisdiknas No.20 tahun 2003 Bab I, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Semua sepakat bahwa ‘education is the best investment that offers the best gain in future’, pendidikan adalah investasi terbaik yang menawarkan masa depan terbaik. Pendidikan merupakan perkara penting untuk mencapai kesejahteraan dan kesempurnaan hidup manusia. Ia menjadi asas dalam membina ilmu pengetahuan bagi membentuk diri dan masyarakat yang lebih dinamik serta terdidik dari sudut fisikal dan spiritual. Oleh karena itu, pendidikan dari perspektif Islam mempunyai pengertian yang mendalam dan menyeluruh yang merangkumi proses melatih akliah, jasmaniah dan ruhaniah yang berasaskan ajaran al-Qur’an dan hadis sebagai pegangan utama kehidupan.
Paradigma pendidikan sekarang banyak sekolah-sekolah yang orientasinnya berpijak kepada matrealisme maksudnya adalah lebih berpihak kepada uang walaupun atas nama simbol pendidikan. Instansi pendidikan banyak sekali yang lebih mengarah kepada hasil pembelajaran (kuantitas) dan tidak berpihak kepada proses pembelajaran (kualitas). Mereka lebih memilih ’saya harus kaya dengan cara mengajar’ bukan ketimbang ’saya harus membuat kaya seseorang dengan cara mengajar’. Dari sinilah kita bisa melihat salah satu masalah yang timbul dalam dunia pendidikan sekarang yang mengakibatkan seseorang siswa hanya belajar mengejar nilai-nilai bahkan mereka rela melakukan apa saja untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Jadi pendidikan saat ini salah siapa ?. apakah salah guru ? atau apakah salah siswa ? atau masalah sistem pendidikan dalam konteks kebijakan negara ?
Dalam laskar pelangi ada dua bentuk tampilan, yang pertama berbentuk buku dan kedua dalam bentuk film. laskar pelangi mengisahkan suatu proses pendidikan didaerah belitung, kita dapat melihat betapa dahsyatnya pendidikan disana yang dilakukan seorang guru kepada muridnya walaupun semuanya dalam keadaan serba keterbatasan. Walaupun dalam kondisi seperti itu semangat dan rasa ingin belajar begitu besar seperti lintang yang mengayu sepedanya dengan jarak tempuh yang jauh (bahkan dia melewati suatu rawa yang banyak buaya) dengan penuh semangat dalam mendapatkan pengetahuan. Dan begitu pula sosok seorang kepala sekolah dan gurunya selalu memotivasi anak muridnya untuk terus belajar demi meraih cita-cita yang di impikan. Bahkan kepala sekolah dan gurunya hanya dibayar berupa beras 50 liter selama tiga bulan. Di dalam laskar pelangi hanya ada satu kelas yang terdiri dari sepuluh siswa. Siswa dalam laskar pelangi tidak dipungut biaya sedikit pun alias gratis.
Dalam laskar pelangi, guru mengajarkan dengan penuh semangat dan antusias tanpa memilih golongan, suku, agama, dan harta. Guru laskar pelangi mengajar dengan melihat kecerdasan para siswanya, Lintang memiliki kecerdasan matematika, Mahar memiliki kecerdasan seni dan Ikal memiliki kecerdasan intra personal dan interpersonal. Dalam metode pembelajaran guru laskar pelangi sangat kreatif dalam pembelajaran sehingga siswa tidak merasa bosan ketika proses belajar berlangsung. Kekreatifan seseorang guru laskar pelangi salah satu contohnya ketika mata pelajaran matematika siswa membawa lidi dan guru laskar pelangi mempraktekkan hitungan sempoa dengan media lidi. Selain itu ada mata pelajaran yang dilakukan diluar kelas atau istilah sekarang metode wisata.
Dari dasar pemikiran diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwasanya guru memiliki memiliki kemampuan untuk mengembangkan kemampuan para siswanya melalui pemahaman, keaktifan, pembelajaran sesuai kemajuan zaman dengan mengembangkan keterampilan hidup agar siswa memiliki sikap kemandirian, perilaku adaptif, koperatif, kompetitif dalam menghadapi tantangan, tuntutan kehidupan sehari-hari. Secara efektif menunjukkan motivasi, percaya diri serta mampu mandiri dan dapat bekerja sama. Selain itu guru masa depan juga dapat menumbuhkembangkan sikap, disiplin, bertanggung jawab, memiliki etika moral, dan memiliki sikap kepedulian yang tinggi, dan memupuk kemampuan otodidak anak didik, memberikan reward ataupun apresiasi terhadap siswa agar mereka bangga akan sekolahnya dan terdidik juga untuk mau menghargai orang lain baik pendapat maupun prestasinya. Kerendahan hati juga perlu dipupuk agar tidak terlalu overmotivated sehingga menjadi congkak. Diberikan pelatihan berpikir kritis dan strategi belajar dengan manajemen waktu yang sesuai serta pelatihan cara mengendalikan emosi agar IQ, EQ dan kedewasaan sosial siswa berimbang.
Sehingga kita bisa sebut inilah sesosok seorang guru masa depan memiliki keterampilan dasar pembelajaran, kualifikasi keilmuannya juga optimal, performance di dalam kelas maupun luar kelas tidak diragukan. Tentunya sebagai guru masa depan bangga dengan profesinya, dan akan tetap setia menjunjung tinggi kode etik profesinya.
Hakikat pendidikan dalam laskar pelangi sebuah contoh paradigma pendidikan humanis. Seperti apa yang dikatakan Ki Hadjar Dewantara tentang lima asas dalam pendidikan yaitu :
1. Asas kemerdekaan; Memberikan kemerdekaan kepada anak didik, tetapi bukan kebebasan yang leluasa, terbuka (semau gue), melainkan kebebasan yang dituntun oleh kodrat alam, baik dalam kehidupan individu maupun sebagai anggota masyarakat.
2. Asas kodrat Alam; Pada dasarnya manusia itu sebagai makhluk yang menjadi satu dengan kodrat alam, tidak dapat lepas dari aturan main (Sunatullah), tiap orang diberi keleluasaan, dibiarkan, dibimbing untuk berkembang secara wajar menurut kodratnya.
3. Asas kebudayaan; Berakar dari kebudayaan bangsa, namun mengikuti kebudyaan luar yang telah maju sesuai dengan jaman. Kemajuan dunia terus diikuti, namun kebudayaan sendiri tetap menjadi acauan utama (jati diri).
4. Asas kebangsaan; Membina kesatuan kebangsaan, perasaan satu dalam suka dan duka, perjuangan bangsa, dengan tetap menghargai bangsa lain, menciptakan keserasian dengan bangsa lain.
5. Asas kemanusiaan; Mendidik anak menjadi manusia yang manusiawi sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk Tuhan.
Dalam proses pendidikan sekarang berbeda sekali dengan proses pendidikan didalam laskar pelangi. Karena pendidikan kita ini mengalami proses “dehumanisasi”. Dikatakan demikian karena pendidikan mengalami proses kemunduran dengan terkikisnya nilai-nilai kemanusiaan yang dikandungnya. Bisa juga dikatakan bahwa pendidikan kita mengalami “kegagalan” apabila kita menengok dari beberapa kasus kekerasan saat yang lalu telah muncul ke permukaan misalnya kekerasan guru, pencabulan, dan genk-genk sekolah. Kenyataan ini telah menjadi keprihatinan bersama masyarakat kita. Jangan sampai kondisi demikian akan selalu menggelapkan raut muka dan wajah buruk pendidikan kita. Sudah saatnya, reformasi pendidikan perlu untuk segera dan secara massif diupayakan, yaitu gagasan dan langkah untuk menuju pendidikan yang berorientasi kemanusiaan.
Berbagai macam kasus kekerasan yang merebak dalam kehidupan kebangsaan dan kemasyarakatan kita, mengindikasikan bahwa pendidikan belum mempunyai peran signifikan dalam proses membangun kepribadian bangsa kita yang punya jiwa sosial dan kemanusiaan. Radikalisme agama adalah salah satu problem nasional yang perlu dipecahkan. Salah satu upaya strategisnya adalah dengan membangun paradigma pendidikan yang berwawasan kemanusiaan. Dengan pendidikan yang bermodelkan seperti ini maka sikap moderatisme dalam beragama adalah hasil yang tidak bisa dinafikan begitu saja.
Mencetak calon pemimpin bangsa tidak bisa lepas dari peran dan fungsi pendidikan. Siapa saja yang kini telah menjadi orang-orang sukses adalah berkat hasil dari produk pendidikan yang bisa diandalkan. Praktik korupsi yang dilakukan oleh beberapa oknum penguasa adalah cermin dari buram dan minimnya produk pendidikan kita. Pendidikan bukan hanya berupa transfer ilmu (pengetahuan) dari satu orang ke satu (beberapa) orang lain, tapi juga mentrasformasikan nilai-nilai (bukan nilai hitam di atas kertas putih) ke dalam jiwa, kepribadiaan, dan struktur kesadaran manusia itu. Hasil cetak kepribadian manusia adalah hasil dari proses transformasi pengetahuan dan pendidikan yang dilakukan secara humanis.
Menurut pendapat saya, para guru hendaknya menjadi pribadi yang bermutu dalam kepribadian dan kerohanian, baru kemudian menyediakan diri untuk menjadi pahlawan dan juga menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa. Dengan kata lain, yang diutamakan sebagai pendidik pertama-tama adalah fungsinya sebagai model atau figur keteladanan, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar. Modelnya adalah Kyai Semar (menjadi perantara antara Tuhan dan manusia, mewujudkan kehendak Tuhan di dunia ini). Sebagai pendidik yang merupakan perantara Tuhan maka guru sejati sebenarnya adalah berwatak pandita juga, yaitu mampu menyampaikan kehendak Tuhan dan membawa keselamatan.
Manusia merdeka adalah tujuan dari undang-undang dasar dan undang-undang pendidikan.. Merdeka baik secara fisik, mental dan kerohanian. Namun kemerdekaan pribadi ini dibatasi oleh tertib damainya kehidupan bersama dan ini mendukung sikap-sikap seperti keselarasan, kekeluargaan, musyawarah, toleransi, kebersamaan, demokrasi, tanggungjawab dan disiplin. Sehingga dari sinilah guru dan siswa membangun budayanya sendiri, jalan hidup sendiri dengan mengembangkan rasa merdeka dalam hati dengan melalui media pendidikan yang berlandaskan pada aspek-aspek nasional. Landasan filosofisnya adalah nasionalistik dan universalistik. Nasionalistik maksudnya adalah budaya nasional, bangsa yang merdeka dan independen baik secara politis, ekonomis, maupun spiritual. Universal artinya berdasarkan pada hukum alam (natural law), segala sesuatu merupakan perwujudan dari kehendak Tuhan. Prinsip dasarnya adalah kemerdekaan, merdeka dari segala hambatan cinta, kebahagiaan, keadilan, dan kedamaian tumbuh dalam diri (hati) manusia.
Suasana yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan adalah suasana yang berprinsip pada kekeluargaan, kebaikan hati, empati, cintakasih dan penghargaan terhadap masing-masing anggotanya. Maka hak setiap individu hendaknya dihormati; pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk menjadi merdeka dan independen secara fisik, mental dan spiritual; pendidikan hendaknya tidak hanya mengembangkan aspek intelektual sebab akan memisahkan dari orang kebanyakan; pendidikan hendaknya memperkaya setiap individu tetapi perbedaan antara masing-masing pribadi harus tetap dipertimbangkan; pendidikan hendaknya memperkuat rasa percaya diri, mengembangkan harga diri; setiap orang harus hidup sederhana dan guru hendaknya rela mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadinya demi kebahagiaan para peserta didiknya. Peserta didik yang dihasilkan adalah peserta didik yang berkepribadian merdeka, sehat fisik, sehat mental, cerdas, menjadi anggota masyarakat yang berguna, dan bertanggungjawab atas kebahagiaan dirinya dan kesejahteraan orang lain. Metode yang yang sesuai dengan sistem pendidikan ini adalah sistem among yaitu metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh (care and dedication based on love). Yang dimaksud dengan manusia merdeka adalah seseorang yang mampu berkembang secara utuh dan selaras dari segala aspek kemanusiaannya dan yang mampu menghargai dan menghormati kemanusiaan setiap orang.
Sebagai paragraph terakhir, bahwa laskar pelangi salah satu sebuah bentuk bela Negara dalam dunia pendidikan yang dilakukan oleh seorang guru di daerah bangka belitung, kita telah melihat proses perjuangan guru tersebut dalam mencetak anak bangsa yang merdeka dan berkualitas yaitu Lintang, Mahar, dan Ikal (Andrea Hirata). Semoga pendidikan kita dapat memegang peran yang penting yaitu dengan Sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan bangsa yang hanya akan lahir dari sistem pendidikan berdasarkan filosofis bangsa itu sendiri. Sistem pendidikan cangkokan dari luar tidak akan mampu memecahkan problem yang dihadapi bangsa sendiri. Oleh karena itu, upaya untuk melahirkan suatu sistem pendidikan nasional yang berwajah Indonesia dan berdasarkan Pancasila harus terus dilaksanakan dan semangat untuk itu harus terus menerus diperbaharui.

Reaksi:

0 komentar:

Terima Kasih sudah berkunjung ke punyahari.blogspot.com