Welcome to punyahari.blogspot.com...selamat datang di punyahari.blogspot.com
Tampilkan postingan dengan label bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahasa. Tampilkan semua postingan

Jumat, Mei 20, 2016

Ragam Bahasa



A.    Pengertian Ragam Bahasa
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara (Bachman, 1990). Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang baik (mempunyai prestise tinggi), yang biasa digunakan di kalangan terdidik, di dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), di dalam suasana resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasa baku atau ragam bahasa resmi.
Menurut Dendy Sugono (1999 : 9), bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi remi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut menggunakan bahasa baku.

Rabu, Mei 22, 2013

Teori Bahasa

Bahasa Berdasarkan Asal Usul
Menurut Keraf linguistik berarti ilmu bahasa. Kata linguistic berasal dari kata lingua ( bahasa Latin ) berarti bahasa. Kata lingua itu masih dapat dijumpai dalam bahasa-bahasa tertentu yang menyerap bahasa Latin, seperti: dalam bahasa Perancis digunakan kata langue dan langage; dalam bahasa Spanyol digunakan kata langua; dan dalam bahasa Itali digunakan kata lingua. Selain itu, dalam bahasa Inggris, yang dipinjam dalam bahasa Perancis, yang sekarang digunakan kata language. (Keraf. 1991. Tatabahasa Rujukan Bahasa Indonesia : 6)
Menurut Verhar dalam santun bahasa, linguistik yang berarti ilmu bahasa dikenal sebagai linguistics dalam bahasa Inggris dan sebagai linguistique dalam bahasa Prancis. Dari kedua istilah tersebut, maka lahirlah kata “linguistik” dan “linguistis” dalam bahasa Indonesia. Kata “linguistik” lebih merujuk kepada kata benda atau noun, sedangkan kata  “linguistis” lebih merujuk kepada kata sifat atau adjective. (Moeliono. 1991. Santun Bahasa : 15)
Secara populer Wina Sanjaya mengartikan linguistik sebagai: 1) ilmu tentang bahasa, 2) ilmu yang menjadikan bahasa sebagai objek kajian, 3) telaah ilmiah mengenai bahasa manusia, dan 4) penyelidikan bahasa secara ilmiah. (Wina Sanjaya,2007.  Strategi Pembelajaran : 132)
Bahasa di dunia ini sangat beragam dan berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Setiap bahasa memiliki karakter, ciri, dan keunikannya masing-masing, baik dari segi fonologi, morfologi, maupun sintaksisnya. Akan tetapi, bahasa-bahasa itu juga mempunyai sifat-sifat universal, artinya setiap bahasa memiliki kesamaan-kesamaan yang berlaku secara umum. (Wina Sanjaya,2007.  Strategi Pembelajaran : 132)
Meskipun bahasa merupakan gejala alami dan tidak pernah terlepas dari kehidupan manusia, artinya tidak ada kegiatan manusia yang tidak disertai oleh bahasa, tetapi sulit sekali diberikan definisinya. Hal itu tampak dari beragamnya definisi tentang bahasa itu.
Pada pemaparan berikut ini dikemukakan beberapa definisi bahasa diambil dari berbagai sumber sebagai bahan kajian, di antaranya:
1. Bahasa adalah alat komunikasi antara masyarakat, berupa lambang bunyi suara, yang dihasilkan oleh alat ucap manusia (Keraf. 1991. Tatabahasa Rujukan Bahasa Indonesia : 6)
2. Bahasa adalah alat yang sistematis untuk menyampaikan gagasan atau perasaan dengan memakai tanda-tanda, bunyi-bunyi, gestur, atau tanda-tanda yang disepakati, yang mengandung makna yang dapat dipahami (Woster’s Third New International Dictionary of the English Language, 1961:1270).
3.  Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerjasama, berinteraksi, serta mengidentifikasi diri (Kridalaksana dan Kentjono,1982:2)
4. Bahasa adalah sistem simbol vokal yang arbitrer yang memungkinkan semua orang dalam suatu kebudayaan tertentu atau orang lain yang mempelajari sistem kebudayaan itu untuk berkomunikasi atau berinteraksi (Finochiaro,1946:8).

2. Bahasa Menurut Para Ahli
Beberapa defenisi bahasa menurut para ahli dapat kita lihat di bawah ini :
1. Berber dalam nukunya The Story of Language ( 1964 : 21 ) mengatakan bahwa bahasa adalah suatu system tanda yang berhubungan dengan lambang bunyi – bunyi suara dan digunakan oleh suatu kelompok masyarakat untuk berkomunikasi dan bekerja sama.
2.  Badadu dalam bukunya Inilah Bahasa Indonesia yang Benar III ( 1989 : 3 ) mengatakan bahwa bahasa adalah alat penghubung, alat komunikasi anggota masyarakat yaitu individu – individu sebagai manusia yang berpikir, merasa, dan berkeinginan. Pikiran, perasaan, dan keinginan baru berwujud bila dinyatakan, dan alat untuk menyatakan itu adalah bahasa.
3. Kridalaksana dalam bukunya Kamus Linguistik ( 1983 : 17 ) mengatakan bahwa bahasa adalah system yang arbiter, yang dipergunakan oleh suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri.
4. Keraf dalam bukunya Tata Bahasa Indonesia ( 1984 : 16 ) mengatakan bahwa bahasa adalah alat komunikasi antar anggota masyarakat, berupa lambang bunyi suara, yang dihasilkan oleh lat ucap manusia.
5.  Sapir dalam bukunya Language ( 1921 : 8 ) mengatakan bahwa bahasa metode atau alat penyampai ide, perasaan, dan keinginan yang sungguh manusiawi dan non-instingtif dengan mempergunakan sistem simbol – simbol yang dihasilkan dengan sengaja dan sukarela.
Dari  semua pendapat para pakar linguistik di atas, dapat diperhatikan bahwa ada tiga sifat bahasa yang sama – sama mereka utamakan yaitu bahasa sebagai sistem tanda atau sistem lambang, sebagai alat komunikasi, dan digunakan oleh kelompok manusia atau masyarakat. Jelas sudah, bahwa semua lapisan masyarakat perlu belajar dan mengetahui bagaimana hakikat bahasa yang sebenarnya.

      3. Teori Belajar Bahasa
a. Teori Behaviorisme
John B. Watson mengemukakan sebuah teori konspirasi mengenai sebuah teori belajar manusia. Di dalam teorinya, ia mengungkapkan bahwa teori belajar Behavorisme memusatkan perhatiannya pada aspek yang dirasakan secara langsung pada perilaku berbahasa serta hubungan antara stimulus dan respons pada dunia sekelilingnya. Dalam teori ini, tanpa kita sadari bahwa teori ini mengungkapkan bahwa tindak balas atau respons diakibatkan oleh adanya rangsangan atau stimulus. Atau dalam kata lain, aksi berawal oleh adanya reaksi. Sehingga tanpa kita sadari sebab menghasilkan akibat.
Untuk membuktikan kebenaran teorinya, Watson mengadakan eksperimen terhadap Albert, seorang bayi berumur sebelas bulan. Pada mulanya Albert adalah bayi yang gembira dan tidak takut bahkan senang bermain-main dengan tikus putih berbulu halus. Dalam eksperimennya, Watson memulai proses pembiasaannya dengan cara memukul sebatang besi dengan sebuah palu setiap kali Albert mendekati dan ingin memegang tikus putih itu. Akibatnya, tidak lama kemudian Albert menjadi takut terhadap tikus putih juga kelinci putih. Bahkan terhadap semua benda berbulu putih, termasuk jaket dan topeng Sinterklas yang berjanggut putih. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelaziman dapat mengubah perilaku seseorang secara nyata.
Pada teori yang lainnya, ilmuan kaum behavioristik Skinner, berhasil  mengungkapkan pada sebuah teori yang bernama Behavior Skinner. Dalam teori tersebut mengungkapkan bahwa Kemampuan berbicara dan memahami bahasa diperoleh melalui rangsangan lingkungan. Teori skinner tentang perilaku verbal merupakan perluasan teorinya tentang belajar yang disebutnya operant conditioning.
Menurut Skinner, perilaku verbal adalah perilaku yang dikendalikan oleh akibatnya. Bila akibatnya itu hadiah, perilaku itu akan terus dipertahankan. Kekuatan serta frekuensinya akan terus dikembangkan. Bila akibatnya hukuman, atau bila kurang adanya penguatan, perilaku itu akan diperlemah atau pelan-pelan akan disingkirkan.
Jadi, pada teori ini kita mengetahui tentang akibat dan sebab perilaku yang dikendalikan oleh akibatnya. Seandainya hal itu baik menurut individu itu maka akan terus dipertahankan atau akan ditingkatkan terus. Begitu juga sebaliknya, apabila individu tersebut merasakan hal yang dilakukannya itu buruk, maka hal yang dilakukannya itu pun akan segera dikuranginya atau bahkan ditinggalkanya.
Sebagai contoh dapat kita saksikan perilaku anak-anak di sekeliling kita. Ada anak kecil menangis meminta es pada ibunya. Tetapi, karena ibunya yakin dan percaya bahwa es itu menggunakan pemanis buatan maka sang ibu tidak meluluskan permintaan anaknya. Sang anak terus menangis. Tetapi sang ibu bersikukuh tidak menuruti permintaannya. Lama kelamaan tangis anak tersebut akan reda dan lain kali lain tidak akan minta es semacam itu lagi kepada ibunya, apalagi dengan menangis. Seandainya anak itu kemudian dituruti keinginannya oleh ibunya, apa yang terjadi? Pada kesempatan yang lain sang anak akan minta es lagi. Apabila ibunya tidak meluluskannya maka ia akan menangis dan terus menangis sebab dengan menangis ia akan mendapatkan es. Kalau ibunya memberi es lagi maka perbuatan menangis itu dikuatkan. Pada kesempatan lain dia akan menangis manakala ia meminta sesuatu pada ibunya.
b.  Teori Nativisme atau Mentalistik
Berbeda dengan kaum behavioristik, kaum nativistik atau mentalistik berpendapat bahwa pemerolehan bahasa pada manusia tidak boleh disamakan dengan proses pengenalan yang terjadi pada hewan. Mereka tidak memandang penting pengaruh dari lingkungan sekitar. Selama belajar bahasa pertama sedikit demi sedikit manusia akan membuka kemampuan lingualnya yang secara genetis telah terprogramkan. Dengan perkataan lain, mereka menganggap bahwa bahasa merupakan pemberian biologis. Menurut mereka bahasa terlalu kompleks dan mustahil dapat dipelajari oleh manusia dalam waktu yang relatif singkat lewat proses peniruan sebagaimana keyakinan kaum behavioristik. Jadi beberapa aspek penting yang menyangkut sistem bahasa menurut keyakinan mereka pasti sudah ada dalam diri setiap manusia secara alamiah.
Perilaku bahasa adalah sesuatu yang diturunkan. Seorang anak lahir dengan piranti bawaan dan segudang potensi bawaan untuk memperoleh bahasa. Pemerolehan bahasa pada manusia tidak boleh disamakan dengan proses pengenalan yang terjadi pada hewan. Mereka tidak memandang penting pengaruh dari lingkungan sekitar. Selama belajar bahasa pertama sedikit demi sedikit manusia akan membuka kemampuan lingualnya yang secara genetis telah terprogramkan. Dengan perkataan lain, mereka menganggap bahwa bahasa merupakan pemberian biologis sejak lahir.
Chomsky (Ellis, 1986: 4-9)  yang merupakan kumpulan komunitas yang mengemukakan tokoh Teori Nativisme mengatakan bahwasannya hanya manusialah satu-satunya makhluk Tuhan yang dapat melakukan komunikasi lewat bahasa verbal. Selain itu bahasa juga sangat kompleks oleh sebab itu tidak mungkin manusia belajar bahasa dari makhluk Tuhan yang lain. Chomsky juga menyatakan bahwa setiap anak yang lahir ke dunia telah memiliki bekal dengan apa yang disebutnya “alat penguasaan bahasa” atau LAD (language Acquisition Device). Pada teori ini lebih menekankan pada cara manusia memperoleh bahasa yang telah ia miliki, dan cenderung pada bahasa yang telah dimiliki seseorang merupakan sebuah anugrah yang sedikit demi sedikit akan mengalami perkembangan hingga ia mampu membuka kemampuan berkomunikasi yang akan dimilikinya.
c.  Teori Kognitivisme
Jika pendekatan kaum behavioristik bersifat empiris maka pendekatan yang dianut golongan kognitivistik lebih bersifat rasionalis. Konsep sentral dari pendekatan ini yakni kemampuan berbahasa seseorang berasal dan diperoleh sebagai akibat dari kematangan kognitif sang anak. Mereka beranggapan bahwa bahasa itu distrukturkan atau dikendalikan oleh nalar manusia. Konsep sentral teori kognitif adalah kemampuan berbahasa anak berasal dari kematangan kognitifnya.
 Jadi, konsep kognitifistik bersumber pada hasil dari belajar anak dan tidak berasal dari luar kognitif anak , seperti afektif dan lain-lain. Konsep ini pula menjelaskan tentang dalam belajar bahasa, bagaimana kita berpikir, belajar terjadi dari kegiatan mental internal dalam diri kita, belajar bahasa merupakan proses berpikir yang kompleks. Menurut Piaget, Struktur tersebut lahir dan berkembang sebagai akibat interaksi yang terus menerus antara tingkat fungsi kognitif si anak dan lingkungan lingualnya.
Proses belajar bahasa terjadi menurut pola tahapan perkembangan tertentu sesuai umur. Tahapan tersebut meliputi:
a. Asimilasi: proses penyesuaian pengetahuan baru dengan struktur kognitif
b.Akomodasi: proses penyesuaian struktur kognitif dengan pengetahuan baru
c.Disquilibrasi: proses penerimaan pengetahuan baru yang tidak sama dengan yang telah diketahuinya.
d.      Equilibrasi: proses penyeimbang mental setelah terjadi proses asimilasi.
d. Teori Fungsional (Interaksionis)
Bahasa merupakan manifestasi kemampuan kognitif dan efektif untuk menjelajah dunia, untuk berhubungan dengan orang lain dan juga keperluan terhadap diri sendiri sebagai manusia. Para peneliti bahasa mulai melihat bahwa bahasa merupakan manifestasi kemampuan kognitif dan efektif untuk menjelajah dunia, untuk berhubungan dengan orang lain dan juga keperluan terhadap diri sendirisebagai manusia.
Menurut Slobin. Teori Fungsional (Interaksionis) Pada asas fungsional, perkembangan diikuti oleh perkembangan kapasitas komunikatif dan konseptual yang beroperasi dalam konjungsi dengan skema batin konjungsi. Pada asas formal, perkembangan diikuti oleh kapasitas perseptual dan pemerosesan informasi yang bekerja dalam konjungsi dan skema batin tata bahasa.
e. Teori Konstruktivisme
Beberapa tokoh  ahli kontruktivisme Jean Piaget dan Leu Vygotski menyatakan bahwa manusia membentuk versi mereka sendiri terhadap kenyataan, mereka menggandakan beragam cara untuk mengetahui dan menggambarkan sesuatu untuk mempelajari pemerolehan bahasa pertama dan kedua.
Pembelajaran harus dibangun secara aktif oleh pembelajar itu sendiri dari pada dijelaskan secara rinci oleh orang lain. Dengan demikian pengetahuan yang diperoleh didapatkan dari pengalaman. Namun demikian, dalam membangun pengalaman siswa harus memiliki kesempatan untuk mengungkapkan pikirannya, menguji ide-ide tersebut melalui eksperimen dan percakapan atau tanya jawab, serta untuk mengamati dan membandingkan fenomena yang sedang diujikan dengan aspek lain dalam kehidupan mereka. Selain itu juga guru memainkan peranan penting dalam mendorong siswa untuk memperhatikan seluruh proses pembelajaran serta menawarkan berbagai cara eksplorasi dan pendekatan.
Siswa dapat benar-benar memahami konsep ilmiah dan sains karena telah mengalaminya. Dalam kerjanya, ahli konstruktif  menciptakan lingkungan belajar yang inovatif dengan melibatkan guru dan pelajar untuk memikirkan dan mengoreksi pembelajaran. Untuk itu ada dua hal yang harus dipenuhi, yaitu:
Pembelajar harus berperan aktif dalam menyeleksi dan menetapkan kegiatan belajar yang menarik dan memotivasi pelajar, Harus ada guru yang tepat untuk membantu pelajar-pelajar membuat konsep-konsep, nilai-nilai, skema, dan kemampuan memecahkan masalah. Sehingga muncul hubungan yang dapat menambah komunikasi antara pembelajar dan pelajar dan menambah terjadinya proses belajar bahasa yang benar-benar diharapkan terjadi. 

Sabtu, Maret 16, 2013

Ada Apa dengan Gue Lo?


Ada Apa dengan Gue Lo?

Asal Usul kata "Lo" Dan "Gue" - Kata “Lo” dan “Gue” memang merupakan kata yang sudah sangat lama digunakan oleh masyarakat di Indonesia khususnya di Jakarta. Kedua kata ini sangat populer digunakan oleh masyarakat sejak tahun 70-an sampai saat ini. Kata “Lo” yang berarti "kamu" dan “Gue” yang artinya "aku", sering digunakan karena terkesan simple dan santai untuk orang yang sebaya. Tapi kata “Lo” dan “Gue” ini akan sangat tidak sopan digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua dari kita. Dan dari pengalaman saya, kata “Lo” dan “Gue” ini mulai eksis digunakan oleh warga Malaysia dan Singapura.
Ternyata kedua kata ini merupakan kata-kata yang berasal dari China. Kedua kata ini juga sudah dipergunakan sejak abad ke 16 dimana banyak para pedagang China yang berdatangan ke Indonesia termasuk Jawa dan Jakarta.
Kata “Gue” dan “Lo” ini berasal dari bahasa Mandarin Hokkien yang merupakan bahasa China. Ini merupakan tulisan kata “Gue/Gua” yang berarti “Saya/Aku” menurut bahasa Mandarin Hokkien (),dan yang satu ini adalah tulisan kata “Lo/Lu” yang berarti “Kamu/Anda” menurut bahasa Mandarin Hokkien (). Maksud dari bahasa Mandarin Hokkien adalah bahasa Mandarin yang telah disederhanakan.
Pertanyaannya adalah kenapa kedua kata ini paling sering digunakan oleh masyarakat Jakarta? Karena pada masa kedatangan China di abad 16, kedua kata ini sangat eksis di setiap daerah di Indonesia. Namun pada masa kolonial Belanda, pusat perdagangan adalah Jakarta dimana para pedagang lebih banyak yang mampir ke pelabuhan Sunda Kelapa pada masa itu, termasuk juga para pedagang China.
Tidak hanya itu, para warga China pun banyak yang menetap di Jakarta dan juga mengenalkan tradisi dan bahasa mereka kepada masyarakat Jakarta sampai saat ini. Alasan lain juga karena dari semua daerah di Indonesia, hanya Jakarta lah yang terbuka dengan budaya dan bahasa dari negara lain sehingga bahasa-bahasa dari China, Belanda, dan negara lain cepat berkembang dan terus digunakan sampai saat ini.
Tidak ada yang salah dengan kata “GUE” dan “LO”!
Rasa-rasanya kalimat tersebut harus diucapkan dengan tegas dan serius. Supaya orang tahu bahwa tidak ada yang salah dengan kata GUE dan LO. Kalau ada orang yang mengatakan bahwa kata GUE dan LO dilarang dipakai, gue yakin tuh orang ga ngerti apa itu bahasa!
Dalam keseharian, GUE dan LO memiliki hak yang sama untuk bersanding dengan kata AKU dan KAMU atau SAYA dan ANDA. Tidak ada yang membedakan mereka. Siapa saja boleh pakai GUE dan LO. Dari anak kecil sampai kakek nenek. Dalam institusi formal, semisal sekolah dan kantor, GUE dan LO juga sangat wajar dipakai. Tidak perlu adanya larangan pemakaian dua kata unik itu.
Apakah GUE dan LO tidak sopan? Apakah GUE dan LO tergolong bad words? Gue yakin jawaban lo ga kan? Iya lah. GUE dan LO kan bahasa daerah yang memang digunakan sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari kita, GUE dan LO ga akan bisa lepas. Semua orang boleh pakai. Setiap individu boleh ngucapin. Pokoknya semuanya boleh. Asalkan kedua belah pihak yang saling berbicara merasa nyaman dengan GUE dan LO.
Oke, sedikit berbeda kasusnya kalau lo mau ngomongin hal resmi dalam satu seminar atau pembelajaran. Atau mungkin lo ketemu orang baru yang belum lo kenal. Bolehlah GUE dan LO dikesampingkan dulu. Kalau lo dah yakin kenal sama tuh orang dan ngerasa nyaman, gue yakin GUE dan LO menjadi primadona dalam setiap obrolan lo.

Sabtu, Desember 24, 2011

Tenses 2


3. Present Perfect Tense
    POLA:
Subject + Have  +  Verb 3 + ….
                 Has

    FUNGSI :
    a. Untuk menyatakan suatu perbuatan yang terjadi pada waktu lampau dan waktunya tidak tertentu.
     Contoh :
*       William Shakespeare has written many short stories.
*       I have swept the floor. It looks clean now.

  1. Untuk menyatakan peristiwa yang pernah dilakukan dan mungkin dilakukan lagi di waktu yang akan datang.
Contoh:
*       My friends and I have gone to Bali.
*       Shinta has visited her grand parents many times.

      KETERANGAN WAKTU: Since, for, just (baru saja), already, yet, so far.

Jumat, Desember 09, 2011

Tenses (Simple Present & Present Continous)

T E N S E S
I. PRESENT
   1. Simple Present Tense
    POLA:
Subject + Verb 1 + ….
They /   We
I   /   You
Subject + Verb s-es + ….    
He  /   She
 It
           
     FUNGSI:       
     a. Untuk menyatakan suatu kebiasaan (habitual action) atau kegiatan yang terjadi berulang – ulang dan terus menerus.
   Contoh :
* The students go to school everyday.
* She studies English twice a week.
* I go to church on Sundays
* We celebrate our independence day once in a year.
     b. Untuk menyatakan kebenaran umum (general truth).
         Contoh:
* The sun rises in the east and sets down in the west.
* The earth revolves round the sun.
* The pineapple never grows up on a tree.

Rabu, Maret 30, 2011

Adad (Bilangan Bahasa Arab)


عَدَد
'ADAD (BILANGAN)
Mula-mula, anda harus mengafalkan sepuluh bentuk dasar dari 'Adad (Bilangan):
1
وَاحِدٌ
6
سِتُّ
2
اِثْنَانِ
7
سَبْعُ
3
ثَلاَثُ
8
ثَمَانِي
4
أَرْبَعُ
9
تِسْعُ
5
خَمْسُ
10
عَشْرُ
Dalam penggunaannya, bentuk-bentuk dasar 'Adad tersebut akan mengalami sedikit perubahan dengan ketentuan sebagai berikut:

Selasa, Maret 29, 2011

Isim Ina dan kawan kawan


إِنَّ وَ كَانَ وَ أَخَوَاتُهُمَا
"INNA" DAN "KANA" SERTA "KAWAN-KAWANNYA"
Kata  إِنَّ (=sesungguhnya) dan  كَانَ (=adalah) serta kawan-kawannya sedikit mengubah kaidah I'rab yang telah kita pelajari sebelumnya sebagai berikut:
1) Bila Harf  إِنَّ (=sesungguhnya) atau kawan-kawannya memasuki sebuah Jumlah Ismiyyah ataupun Jumlah Fi'liyyah maka Mubtada' atau Fa'il yang asalnya Isim Marfu' akan menjadi Isim Manshub. Perhatikan contoh di bawah ini:
Jumlah tanpa Inna
Jumlah dengan Inna
اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ
إِنَّ الْبَيْتَ كَبِيْرٌ
(=rumah itu besar)
(=sesungguhnya rumah itu besar)
اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ غَالٌ
لَكِنَّ اَلْبَيْتَ الْكَبِيْرَ غَالٌ
(=rumah besar itu mahal)
(=akan tetapi rumah besar itu mahal)
نَصَرَ اللهُ الْمُؤْمِنَ
لَعَلَّ اللهَ يَنْصُرُ الْمُؤْمِنَ
(=Allah menolong mukmin)
(=semoga Allah menolong mukmin)

Senin, Maret 28, 2011

I'rab Isim, Isim Marfu', Isim Manshub, Isim Majrur

إِعْرَاب اْلاِسْم
I'RAB ISIM
I'rab ialah perubahan baris/bentuk yang terjadi di belakang sebuah kata sesuai dengan kedudukan kata tersebut dalam susunan kalimat. Pada dasarnya, Isim bisa mengalami tiga macam I'rab yaitu:
1. I'RAB RAFA' ( رَفْع ) atau Subjek; dengan tanda pokok: Dhammah ( ُ  )
2. I'RAB NASHAB ( نَصْب ) atau Objek; dengan tanda pokok: Fathah ( َ   )
3. I'RAB JARR ( جَرّ ) atau Keterangan; dengan tanda pokok: Kasrah ( ِ   )
Perhatikan contoh dalam kalimat di bawah ini:
جَاءَ الطُّلاَّبُ
= datang siswa-siswa
رَأَيْتُ الطُّلاَّبَ
= aku melihat siswa-siswa
سَلَّمْتُ عَلَى الطُّلاَّبِ
= aku memberi salam kepada siswa-siswa
Isim الطُّلاَّب (=siswa-siswa) pada contoh di atas mengalami tiga macam I'rab:

Minggu, Maret 27, 2011

Harfun, Ism dan Fi'il


HARF (Kata Tugas)
Harf adalah semua jenis kata selain Isim dan Fi'il, yang tidak bisa berdiri sendiri dan tidak memiliki arti yang jelas tanpa kata-kata lain dalam hubungan kalimat.
Contoh Harf: وَ (=dan), مِنْ (=dari), عَنْ (=dari), إِلَى (=ke, kepada), فِيْ (=di, dalam), حَتَّى (=hingga), لاَ (=tidak, tidak ada), إِنْ (=jika), dan lain-lain.
Sekilas catatan penting tentang penggunaan beberapa macam Harf:
1. Beberapa Harf, seperti بِـ (=dengan) di dalam kalimat kadang mempunyai arti, dan kadang hanya sebagai tambahan yang tidak mempunyai arti. Contoh:

Sabtu, Maret 26, 2011

Bahasa Arab (Fi'il, Mudhori', Amr, Nahy, Mady

 فِعْل
FI'IL (Kata Kerja)
Fi'il atau Kata Kerja dibagi atas dua golongan besar menurut waktu terjadinya:
1. FI'IL MADHY ( فِعْل مَاضِي ) atau Kata Kerja Lampau.
2. FI'IL MUDHARI' ( فِعْل مُضَارِع ) atau Kata Kerja Kini/Nanti.
Baik Fi'il Madhy maupun Fi'il Mudhari', senantiasa mengalami perubahan bentuk sesuai dengan jenis Dhamir dari Fa'il ( فَاعِل ) atau Pelaku pekerjaan itu.
Untuk Fi'il Madhy, perubahan bentuk tersebut terjadi di akhir kata, sedangkan untuk Fi'il Mudhari', perubahan bentuknya terjadi di awal kata dan di akhir kata.

Terima Kasih sudah berkunjung ke punyahari.blogspot.com